Saya serasa mendapat pencerahan (lagi), pada mata kuliah
akhlak tasawuf yang selalu saya nantikan pelajarannya, hahaha- kalimat yang
masih saya ingat dari pak Y adalah,” Hidup di dunia ini, jangan mencari perhatian
orang lain, capek tau kalo terus minta diperhatikan orang, syukur kalo ada yang
mau, kalo nggak ada piye?, tapi jadilah seseorang yang perhatian
(memperhatikkan) dengan orang lain, maksudnya kita tampil bukan karena
dibuat-buat, kita tampil karena ingin membuat orang lain senang dan nyaman
dengan kita.”
Yang paling benar2
saya ingat, pertanyaannya 2 orang teman, Pertanyaan pertama adalah,” Pak, memaafkan orang lain adalah bagian
dari akhlak yang baik, bagaimana kalo kita sudah memaafkan orang, tapi pada
saat tertentu kita masih mengingat kesalahnnya dan membuat hati kita sakit
lagi? Pertanyaan yang kedua adalah “Pak, jikalau kita sudah benar-benar
memaafkan kesalahn orang, yang terjadi pada waktu lalu ya sudah, tapi kita
nggak mau ketemu lagi, putus hubungan dengan orang tersebut , itu bagaimana pak
? tapi hati kita benar2 sudah memaafkan.”
Lalu pak dosen menjawab seperti ini. “ Dari pertanyaan
kalian jawabanya itu Cuma satu, intinya adalah mau memberi, yaitu memberi Maaf,
semua itu akan hilang kalo kita “mau memberi maaf tulus kepada oranglain” dan
saat itu juga beliau menceritakan sebuah cerita tentang perselingkuhan, dimana
membuat hati saya pengen nangis mendengarnya karena terharu. Ceritanya seperti
ini, ada seorang istri yang berselingkuh, kalian tahu gimana rasanya hati si
suami mendengar pengakuan dari istrinya itu ? ia tidak marah menunjukkan
ekspresi kepada istrinya, ia tidak pernah menampar istrinya atau balas dendam
terhadap selingkuhannya maupun memakinya, ia hanya mampu menangis dan berpasrah
dan mendekatkan diri pada Allah, ia mampu mengendalikan emosinya dihadapan
oranglain walaupun hatinya tercabik-cabik, walaupun akhirnya ia memukulkan
tangannya ke tembok, namun ia bisa menyembunyikan itu semua dari oranglain,
masih tetap menunjukkan ekspresi yang baik terhadap istrinya, walaupun hatinya
menangis dan perih, lalu dosen saya melanjutkan pertanyaan dengan kami, menurut
kalian apa yang akan dilakukan setelah ini ? dalam hati saya berpikir, mungkin
orang tersebut akan memafkan istrinya dan menceraikannya. Tetapi dugaan saya
salah, Si suami itu memafkan istrinya dengan tulus, dan ia tidak akan
menceraikan istrinya, karena istrinya udah mengaku salah dan meminta maaf pada
suaminya.
Lalu dosen saya selesai bercerita dan melanjutkan
penjelasannya, “Ketika akidah sudah kita
pegang kuat, akidah tersebut akan melahirkan ibadah, lalu menghasilkan perilaku
(akhlak) yang baik, karena indikator keimanan seseorang ada pada perilakunya
(akhlaknya), karena yang mampu mengendalikan nafsu, dunia , dsb, adalah ia yang
mampu membangun komitmen terhadap Tuhannya.”
“Sekarang paham kan bagaimana pentingnya memaafkan orang
lain?”Lanjutnya. Jangan pernah kita memutus silaturahim kepada oranglain,
walaupun kita sudah disakiti oleh oranglain. Sebagaimana kita berlomba-lomba
untuk memberi kepada orang lain, begitu juga kata “maaf”. Kita harus bisa juga
berlomba-lomba dalam memberi maaf kepada orang lain. Inilah pentingnya
berakhlak yang baik karena dengan berakhlak kita mampu memberikan penghargaan
terhadap orang lain, penghargaan atas upaya “Minta Maaf nya kepada kita”
Dan sekarang saya paham, kedalaman memahami problem hidup
itu sangat penting, bagaimana kita bisa merasionalisasikan antara hati dengan
pikiran, sehingga semua masalah yang kita alami sampai detik ini tidak dibawa
hingga berlarut-larut dalam penyesalan dan menyalahkan takdir Tuhan. Semua yang
terjadi dengan kita selalu ada hikmahnya. Saya selalu meyakini itu!
Terima kasih pak atas pencerahannya. ^^
Sebenarnya banyak cerita lagi dalam mata kuliah ini, Cuma
dari sekian cerita, yang paling saya ingat itu pas pertemuan ini, membahas
tentang akhlak yang baik.
Semoga bermanfaat ***
Yogyakarta, 1 September 2013 06:40 WIB